Efektivitas Vaksin Covid

Vaksin Astrazeneca Mengandung Babi, Begini Sikap Muhammadiyah

Menurutnya, kalau hasil dari uji toksisitas dan sterilitas di Badan POM terhadap batch tersebut lulus, maka batch yang ditunda bisa dilanjutkan. “Batch AstraZeneca selain CTMAV547 aman digunakan sehingga masyarakat tidak perlu ragu,” tegasnya. Vaksinasi dengan AstraZeneca pun akan tetap berlanjut, tetapi menggunakan kumpulan produksi lain, CTMAV516, yang sekarang tersisa 3.000 dosis. Penyuntikan dosis kedua AstraZeneca seharusnya dimulai pekan ini sejak digunakan di Sulut pada Maret 2021. Saat itu, rentang waktu pemberian dosis pertama dan kedua hanya dua bulan. Kumpulan vaksin itu tidak akan digunakan untuk sementara sampai pengujian toksisitas dan sterilitas oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan selesai menyusul adanya dua kematian di Jakarta yang diduga terkait vaksin tersebut.

Dia menambahkan terdapat lima kaidah yang menjadi pertimbangan dalam menentukan halal dan haram suatu vaksin. “Jadi kita tahu bahwa vaksin AstraZeneca bersentuhan dalam prosesnya dengan babi sehingga vaksin ini dikatakan haram,” ujar Siti Nadia Tarmizi dalam dialog dengan Kantor Berita Radio , Selasa (23/3). Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan melaporkan mutasi virus corona di Indonesia mencapai fifty four kasus mutasi SARS-CoV-2. Asrorun menjelaskan, dengan ini berarti fatwa MUI menyatakan vaksin AstraZeneca haram.

“ Maka ketika vaksinasi Covid-19 ini menjadi elektif, di situlah kemudian masyarakat bisa memilih vaksin yang benar-benar halal. Pernyataan bahwa vaksin COVID- 19 Astra Zeneca ini haram tetapi boleh digunakan dari MUI menurut saya berasal sudut pandang ini,”ujar Dr. Atoilah. “Jika ini masih tahap percobaan seperti clinical trial fase-1, dan setelah itu langsung dikomersilkan atau langsung dipakai, maka itu melanggar kaidah yang pertama dan itu hukumnya haram, meskipun kita memakai benda yang suci,” kata Dr. Atoilah. Di tempat yang sama, Majelis Ulama Indonesia juga menyampaikan bahwa vaksin Astra Zeneca dibolehkan untuk digunakan .

Selain itu vaksin halal atau suci yang ada sekarang disebutnya tidak mencukupi untuk menciptakan kekebalan kelompok atau herd immunity. “Ketentuan hukumnya, pertama, dalam proses tahap produksinya, vaksin AstraZeneca memanfaatkan enzim yang berasal dari babi. Kedua, penggunaan AstraZeneca pada saat ini hukumnya dibolehkan,” katanya. Meski vaksin tersebut mengandung tripsin babi, Pemkot dan Majelis Ulama Indonesia Balikpapan kompak menyatakan AstraZeneca halal. “Umat islam Indonesia wajib berpartisipasi dalam program vaksinasi Covid-19 yg dilaksanakan pemerintah untuk mewujudkan kekebalan kelompok dan terbebas dari wabah Covid-19,” ujarnya. Dalam pernyataanya, pihak AstraZeneca menegaskan bahwa vaksin Covid-19 AstraZeneca tidak bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya.

Hal ini menjadi polemik akan vaksin Covid-19 AstraZeneca halal atau haram untuk disuntikan kedalam tubuh. Jika vaksin tidak aman, Anita mengatakan, vaksin tersebut tidak boleh lanjut sampai ke uji klinik fase 3. “Seperti yang kita tahu, dia menjalani uji klinis dan segala macem. Uji klinis itu yang awalnya bukan untuk mengetahui vaksinnya punya efek atau tidak, tapi yang diutamakan adalah aman atau tidak,” ujarnya. Menurut Anita, jika vaksin masuk dalam kategori tidak aman, tentu tidak akan diizinkan untuk beredar di mana pun. Harry menulis kata pengantar dalam buku yang ditujukan untuk anak-anak dari tenaga kesehatan yang meninggal dunia akibat pandemi. Namun, dewan menyetujui vaksin AstraZeneca untuk digunakan mengingat keadaan darurat pandemi.

Regulator Inggris mengonfirmasi bahwa manfaat vaksin AstraZeneca jauh lebih bermanfaat untuk menangkal Covid-19. AstraZeneca menambahkan, produknya telah mendapatkan perseteujuan dari lembaga terkait di negara-negara mayoritas Muslim lainnya. Pihaknya menekankan, AstraZeneca sama sekali tidak menggunakan unsur yang mangandung babi dalam proses peroduknya. Pemerintah tidak memikiki kekuasaan memilih jenis vaksin Covid-19, mengingat keterbatasan vakisn yang tersedia baik di Indonesia maupun tingkat international. Namun vaksin Covid-19 AstraZeneca tetap dapat lampu hijau untk digunakan. Kendati demikian, Asrorun juga rekomendasikan pemerintah untuk mengupayakan keberadaan vaksin Covid-19 yang aman dan halal.

Vaksin Astrazeneca babi

Pernyataan itu kemudian dibalas pihak AstraZeneca dengan menyatakan vaksin mereka tidak mengandung babi. “Jadi tidak ada alasan masyarakat untuk ragu-ragu mengikuti program vaksinasi,” ujar Nadia di situs Kementerian Kesehatan. Ketika virus mulai banyak yang keluar dari sel inang, maka medium cair akan dituang dan diproses untuk pemurnian antigen,” ungkapnya.

Beliau juga kemudian menjelaskan 5 kaidah yang menjadi pertimbangan dalam menentukan halal dan haramnya suatu vaksin. Kaidah-kaidah ini ia, sarikan dari berbagai dalil yang ada di dalam Al-Quran dan Hadist. Selama itu tidak melanggar akidah, intiny, boleh,” jelas epidemiolog tersebut. Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Atoillah Isfandi menjelaskan ada tiga hal yang menjadi pertimbangan haram atau tidaknya suatu vaksin.